Kamis, 25 Februari 2010

Hanya Seonggok Daging....

Posted by Kak Galuh On 15.51 | No comments
Detik waktu semakin cepat berjalan. Ketika itu adalah ketiga kalinya aku memasuki ruangan operasi. Bau khas rumah sakit yang begitu menyengat membangkitkan memori beberapa waktu lalu saat meja operasi itu adalah juga menjadi pilihan terakhir yang terpaksa aku pilih agar calon-calon generasi penerus risalah yang telah bersemayam pada rahimku dapat lahir dengan selamat.

Semuanya berjalan dengan begitu lancar hingga satu-persatu wajah-wajah mungil tanpa dosa itu hadir dalam pelukan. Kebahagiaan menjadi pemegang amanah mengalahkan segala rasa sakit sayatan berulang yang tak karuan itu. Satu jam setelah jahitan tujuh lapis kulit lengkap tertutup, seperti biasanya raga yang setengahnya masih terbius obat bius lokal itu digiring dengan cepat ke ruang pemulihan. Satu persatu suster meninggalkanku sendiri agar tubuh yang baru saja tersayat untuk ketiga kalinya itu dapat beristirahat sejenak.

Ku tengok bagian tubuh yang terbius. Hingga ujung kaki ia tak kan mampu bergerak hingga kurang lebih dua jam ke depan. Kesendirian ini, tiba-tiba begitu menakutkanku meski ini bukan pengalaman pertama tapi rasanya saat itu adalah saat yang paling menakutkan. Tubuhku yang terbius tak mampu bergerak… menjadi seonggok daging tak bernyawa. Meski hanya separuh yang tak bernyawa, tapi bayangan bahwa saat itu raga ini sedang berada di kedalaman tanah dua meter dengan papan nisan diatasnya kerap membayangi. Beginikah rasanya menjadi daging tanpa nyawa? Beginikah rasanya ingin bergerak tapi tak mampu karena selain tak bernyawa juga sudah tertimbun tanah merah dengan segala penghuninya. Penghuni yang siap berebut menyantap seonggok daging tanpa nyawa itu bagaikan menyatap makanan pada sebuah pesta pora. Belum lagi ketika datang siksa kubur sebagai pertanggung jawaban atas semua tingkah laku ketika raga itu masih bernyawa dan bisa bergerak sesuka hati. Hati yang terkadang penuh nafsu. Hati yang terkadang penuh kesombongan dan merasa bahwa tubuh yang bergerak ini adalah atas kehendak diri sendiri. Hati yang tak menyadari bahwa sesungguhnya yang menggerakkan tubuh ini adalah Yang Maha Memberi Hidup. Hati yang tertutup dari rasa fitrah bahwa dari ujung kaki hingga ujung rambut, semuanya memiliki fitrah untuk di tunaikan dalam menyembah Penciptanya.

Astagfirullah…. Masihkah raga yang ternyata masih diberi kesempatan untuk bergerak ini mampu menunaikan hak-haknya untuk tunduk pada Penciptanya, Sang Maha Kuasa hingga seonggok daging ini betul-betul tak bernyawa kelak???? Wallahualam   [gkw]

Jumat, 19 Februari 2010

Cintakku Bukan Milikku

Posted by Kak Galuh On 15.44 | No comments
Aktualisasi diri seorang wanita pada umumnya tercapai ketika ia memiliki keluarga yang utuh. Suami yang mengayomi, serta anak-anak yang membanggakan. Namun pencapaian ini tak akan selamanya tergenggam dengan seterusnya tanpa terlepas. Bercita-cita menjadikan keluarga sebagai keluarga yang sakinah, mawwadah tentu impian setiap wanita ketika mereka memulai ikrar kesetiaan di pintu gerbang pernikahan. Alangkah indahnya hidup ini, karena dengan pernikahan, wanita telah menyempurnakan fitrahnya yang mulia di mata Allah.

Ujian akan datang menerpa setiap pintu pernikahan yang telah dimulai. Dan dari situlah cinta yang sebenarnya akan teruji. Semakin kokoh pintu itu terjaga, semakin kokoh pula ujian yang datang mengetuknya dengan kencang. Semua berawal dengan niat yang baik. tapi kita tidak pernah tahu akhirnya seperti apa. Yang kita bisa lakukan memohon pada Yang Maha Akhir untuk memberikan kita akhir yang sesempurna awalnya.

Betapa besar cinta kita pada suami dan betapapun dahsyatnya cinta kita pada anak-anak. Tetap kita tak kan dapat menggenggam mereka seterusnya dalam tangan kita yang penuh kasih dan cinta itu. Mereka hanya hadir sementara pada kehidupan kita. mereka hanya titipan. Tak lama. Tak abadi. Sewaktu-waktu mereka bisa pergi. Mencintai yang lain dan menorehkan luka pada kita. Tapi kita bisa sembuhkan luka itu jika kita memiliki rasa cinta yang lain. Rasa cinta yang tak pernah terkhianati oleh cinta fana yang ada di sudut dunia manapun. Rasa cinta pada Pemilik semua cinta. Ia tak pernah tinggalkan kita. CintaNya pada kita tak pernah luntur.

Tak seperti kita yang hanya puas dengan mencintai suami dan anak-anak semata tanpa mau tahu siapa yang memberikan suami dan anak-anak itu pada kita. Pada akhirnya ketika Yang Maha Memberi itu mengambil kembali pemberianNya pada kita, KITA BISA APA??? KITA TIDAK AKAN BISA BERBUAT APA-APA!!!! KARENA KITA BUKAN SIAPA-SIAPA!!! Oleh karenannya cintaku yang begitu syahdu pada suamiku, dan juga cintaku yang begitu dalam pada anak-anakku... tetap saja cinta itu bukan milikku..... [gkw]

Sabtu, 13 Februari 2010

Sang Ibu yang menunaikan hak anaknya

Posted by Kak Galuh On 10.07 | No comments
Adalah Ummu Hani' (Fakhitah binti Abi Tholib bin Abdul Munthalib), terlahir dari keluarga pemuka Quraisy menjadikan dirinya wanita yang cukup disegani dan di hormati pada masanya karena ia banyak mengemukakan pendapat dan juga memiliki adab yang tinggi.

Sebelum Rasulullah SAW mendapat tugas menjadi pengemban amanah risalah, pada masa jahiliyah, Rasulullah SAW pernah meminang Ummu Hani’, namun ayahnya telah menjajikannya kepada Hubairah bin Abi Wahb.

Pada masa permulaan Islam, Ummu Hani' masuk Islam sedangkan suaminya tetap bertahan pada agama warisan leluhur. Maka hukum Islam memisahkan keduanya, dan ia tetap memelihara keempat anaknya yang masih kecil.

kemudian untuk kedua kalinya Rasulullah SAW meminangnya. namun meski pada saat itu yang meminangnya adalah Rasulullah SAW, ia menjawabnya dengan penolakan yang sangat santun. "Wahai, Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai daripada pendengaran dan penglihatanku, sedangkan hak suami itu besar. maka jika aku mengurusi suamiku, aku khawatir menyia-nyiakan sebagian urusan dan anak-anakku. Namun jika aku mengurusi anak-anakku, aku khawatir menyia-nyiakan hak suamiku", kemudian Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya sebaik-baik wanita yang menaiki unta diantara wanita Quaraisy ialah yang paling menyayangi anak di waktu kecilnya dan paling memperhatikan kepentingan suami dalam harta miliknya. Andaikata aku tahu bahwa Maryam binti Imran menaiki unta, niscaya aku tidak melebihkan seorang pun diatasnya".(Ath-Thabaqatul Kubra, Juz 7, halaman 32. Al-Ishaabah, Juz 8 halaman 287).

Betapa asih Ummu Hani dalam menunaikan hak anak-anaknya, karena keimanannya yang tinggi kepada Allah SWT, Ummu Hani membebaskan dirinya dari kecintaannya atas posisi Ummul mukminin yang mulia dan utama diantara para wanita mukmin. Subhanallah…

Sejumput warisan kisah kasih seorang bunda yang begitu mulia…. Semoga bermanfaat untuk kita jadikan ibroh… khusus bagi setiap bunda yang berani mengambil keputusan menjadi single parent karena suatu uzur yang haq…. Wallahualam. [gkw]

Selasa, 08 September 2009


SITI HAJAR, wanita istimewa yang menggoreskan arti emansipasi sesungguhnya dalam sejarah Tauhid. dilahirkan sebagai budak tak lantas membuat derajatnya menjadi hina. justru melalui beliau, Allah memperkenalkan ketauhidan tak hanyalah milik bangsawan ataupun kaum rahib yang memang sudah terlahir dalam lingkungan yang mendukung. Tauhid dapat dimiliki sebagai harta sekaligus kebebasan terbesar seorang insan yang menyerahkan dirinya hanya pada Allah semata, meskipun insan tersebut hanya berstatus sebagai budak sekalipun. pada kisah Siti Hajar, Allah juga menggambarkan begitu Indah dan mulianya Tauhid yang juga bisa di tembus oleh kebebasan gender (baca:emansipasi). Karena bagi Allah, yang termulia di MataNya adalah yang memiliki ketauhidan sempurna tanpa keraguan tak perduli apakah itu perempuan ataupun laki-laki.

Dinikahi oleh Nabiyullah Ibrahim AS atas anjuran Siti Sarah adalah dengan niat agar Nabiyullah Ibrahim AS dapat memiliki keturunan sebagai penerus risalah. Sebelumnya, mungkin bermimpipun tidak Siti Hajar akan diangkat derajatnya begitu tinggi menjadi istri seorang Nabi. namun Allah telah menganugrahkan kemuliaan ini padanya sebagai hadiah yang membuat jalan hidupnya menjadi lebih berarti dari sebelumnya yang sekedar sebagai budak hina biasa. belum henti kegembiraannya akan anugrah tersebut, ia di beri lagi anugrah mulia lainnya berupa kelahiran Ismail yang kelak oleh Allah juga di angkat derajatnya menjadi seorang Nabi layaknya ayahanda Ibrahim AS. Kebahagiaan yang begitu lengkap sebagai seorang wanita yang telah memiliki keluarga utuh membuat Siti Hajar tak henti-hentinya bersyukur atas nikmat yang telah Allah berikan padanya.

Namun demikian, sudah Sunatullah ketika seseorang telah diangkat derajatnya oleh Allah, maka ia akan diberi ujian untuk menegtahui apakah kemuliaan tersebut dapat bertahan dalam jendela Tauhid yang merupakan fitrah setiap insan yang tercipta di dunia ini? Dengan bermaksud lebih memuliakannya lagi, Siti Hajar diletakkan pada situasi, dimana ia harus berpisah dengan suami tercintanya di tengah padang gersang tak berpenghuni hanya bersama anaknya Ismail yang masih bayi. Tentu keadaan ini bukanlah keadaan yang mudah bagi seorang istri yang baru saja mendapatkan anugrah sebuah keluarga yang utuh. Ia akan tinggal di padang itu tanpa suami yang juga sudah tentu tidak akan menafkahinya lahir batin selama ia dan Ismail berada di padang tersebut. Tapi sudah pasti Allah meletakkan Siti Hajar pada situasi tersebut karena telah mampu melihat kapasitas keimanan Siti Hajar yang istimewa.

Dengan penuh ketaatan, Siti Hajar menerima perpisahan yang mengharukan dengan suaminya tanpa bantahan sedikitpun, juga tanpa permintaan untuk bercerai karena pada kondisi tersebut, ia tak akan dinafkahi suaminya dalam jangka waktu yang tidak sebentar. Kesetiaannya pada Allah SWT dan pada suaminya Nabiyullah Ibrahim AS telah membentuknya menjadi wanita yang melaksanakan emansipasi sesungguhnya. Dengan jerih payah dan tanggung jawabnya sebagai seorang bunda, ia berusaha mencarikan air bagi bayi Ismail yang sedang kehausan di tengah padang gersang nan tandus. Dengan penuh ketaatan dan ketakwaan ia berlari-lari antara bukit safa dan marwah berharap ada oase ataupun insan lain yang lewat memberinya keajaiban setetes air. Namun harapannya tak segera terjawab. Bukanlah Siti Hajar jika harus menyerah begitu saja pada keadaan. Mentalnya sebagai budak yang telah terbiasa hidup susah telah membuatnya menjadi seorang wanita yang tangguh. Kembali dengan keimanan yang penuh, ia berlari lagi diantara kedua bukit kecil itu hingga tujuh kali. Karena ia tak juga mendapatkan apa-apa, akhirnya ia kembali pada Ismail untuk melihat keadaan buah hati tercintanya itu.

Allah begitu mencintai Siti hajar atas emansipasi tauhid yang dilakukannya dengan penuh ketaatan dan ketakwaan. pada saat Ismail terus menangis dan Siti hajar baru saja menghampirinya dari usahanya mencarikan Ismail air, Allah langsung menurunkan keajaiban kepada ibu dan anak tersebut berupa keluarnya sebuah sumber mata air tepat dibawah kaki Ismail yang sedang menendang-nendang pasir karena kehausan. Dan jadilah sumber mata air itu memberi kehidupan tidak hanya pada buah hatinya Ismail, melainkan seluruh kafilah-kafilah yang melewati padang tersebut, hingga padang yang dulunya gersang tak berpenghuni menjadi ramai diduduki kafilah-kafilah yang membentuk peradaban baru di sekitarnya.

Keberhasilan Siti hajar membangun sebuah komunitas peradaban di sepanjang padang gersang tersebut, merupakan bentuk keberhasilan emansipasi yang hanya bisa dilakukan oleh wanita setangguh dan sekuat Siti Hajar saja. Atas keberhasilan emansipasi tauhidnya itu, Allah mengembalikan dirinya pada suami tercinta dan mengabadikan perjuangan mencarikan Ismail air sebagai sebuah momentum atas ibadah umat Islam hingga kini dalam ritual Ibadah Haji dan Umrah.

Sangat special, karena Ibadah haji ini diletakkan Allah sebagai rukun Islam yang kelima, menggambarkan bahwa haji adalah ibadah dimana seorang muslim telah bertauhid, menjalankan sholat, puasa dan berzakat sebagai kemapanan ibadahnya. kemampanan ibadah inilah yang akan membentuk pribadi seorang muslim yang tak sekedar melakukan rukun-rukun tersebut sebagai ritual belaka, melainkan terimplikasikan melalui ahlakul karimahnya dalam kehidupan sehari-hari. Jika ke-empat rukun sebelum haji telah terlampaui secara lahir dan bathin maka pelaksanaan haji adalah sebagai simbol kesempurnaan ibadah rukun Islam yang mnandakan bahwa insan tersebut telah mapan secara spritual dan lahiriah.

Dan Siti Hajar pun ikut berperan secara monumental dalam Emansipasi Tauhid tersebut. Walauhualambishowab. [gkw]

Minggu, 06 September 2009

Buaian Mimpi

Posted by Kak Galuh On 14.41 | No comments
Ketika pada suatu ujung hari yang hening, jauh dari kehidupan duniawi yang memabukkan, sebuah desiran suara membisikkan "sebentar lagi kau akan mati". Mengayun lembut pada mimipi yang entah sudah berapa kali terjadi. Sejenak suara itu menghilang dan membuat jiwa yang terbuai mimpi segera bangun dan tersadar. Jiwa ini memiliki raga yang masih berusia muda. Mungkinkah jiwa itu akan segera pergi secepat itu dari raga yang terlihat masih sehat ini??? Istighfar pun meluncur dari lidah kelu yang entah apakah selama ini telah cukup banyak terpakai untuk menyebut Asma Allah, Sang Pemberi Kehidupan pada si empunya mimpi???

Setelah sholat lail, berdzikir dan bersimpuh kepadaNYA hingga subuh tak juga membuat si empunya mimpi menjadi lebih baik. Ia tetap merasa belum memiliki apa-apa untuk dibawanya sebagai bekal andai kematian itu memang terbentang di depan matanya bak jurang lebar yang tiba-tiba hadir di depan pintu kamarnya. Sama sekali tak bisa dihindari. Karena tak ada jalan keluar dari kamar itu selain pintu kamar itu sendiri. Adapun jendela yang terpasang lebar di sudut kamar lain telah diteralis besi oleh pemilik rumah tempatnya mengontrak.

Bagaimana jika ia mati sekarang??? Sudah cukupkah sholatnya, puasanya, zakatnya selama ini??? Apakah sholat, puasa, zakat, berbuat baik pada sesama saja sudah cukup sebagai bekalnya menghadap Sang Pencipta. Tiba-tiba si empunya mimpi menangis tersedu-sedu seperti anak kecil yang tidak mendapatkan keinginnnya dari orang tuanya. Ia menangis karena selama dua puluh empat jam setiap hari yang dilaluinya hanya ketika sholat saja ia mengingat Allah. Pada waktu lain, ia hanya disibukkan oleh pekerjaan yang tak kunjung selesai. Ia juga menangis karena hanya berpuasa pada bulan Ramadhan, sedangkan pada bulan-bulan lain ketika ada kesempatan berpuasa sunah, tak pernah ia kerjakan. Ia pun menangisi, harta yang dikeluarkannya untuk zakat hanyalah setahun sekali ketika menjelang idul fitri. Selebihnya, ia pakai untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang semakin hari semakin banyak, bertambah karena tuntutan zaman dan sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan Allah yang sudah memberikan rezeki tersebut padaNya.

Ia terus menangis hingga air matanya kering... tapi terlambat sudah... malaikat maut sudah menunggunya di depan pintu kamar... [gkw]

Rabu, 29 Juli 2009

Selamatkan Anak

Posted by Kak Galuh On 06.12 | No comments
Sumpah saya tidak akan menulis yang aneh-aneh disini. Becanda pun tidak. Sebab hal ini bukan untuk ditertawakan atau dibecandakan. Boleh lah sekali-kali saya tidak becanda. Meskipun becanda itu senjata ampuh penolak santet dan anti interograsi. Tapi sekali lagi saya tidak ingin becanda dalam hal ini.

Itu saya kemarin melihat tiba-tiba TV hidup. Entah siapa yang menjadi Tuhan baginya. Soalnya ketika saya datang ke tempat TV, dirinya sudah hidup seperti itu. Tapi biarlah. Saya tidak perduli siapa Tuhan dia. Sebab Tuhan saya hanya Allah dan Muhammad saw-lah rasul saya.

Si TV sebenarnya tidak saya persalahkan atas kehidupannya. Yang saya permasalahkan adalah apa yang dia perlihatkan pada saya. Entah kenapa hal seperti itu bisa terjadi lagi. Disaat tanggal keramat seperti waktu itu. Ya 23 Juli 2009.

Tepat ditanggal keramatnya anak-anak se-Indonesia itu, saya kembali dibuat terdiam oleh TV. Bukan berarti TV telah menajdi Tuhan buat saya. Atau dia punya ilmu hipnotis seperti Romy Rafael. Tapi karena apa yang saya lihat ternyata begitu sangat ..... apa ya??? Saya susah mendeskripsikannya. Terserah mau dikatakan apa. Saya ceritakan saja sekilas. Tidak usah banyak-banyak. Kalau banyak-banyak nantinya tidak bagus. Seperti halnya hujan. Kalau hujan kebanyakan nantinya banjir. Seperti rumah saya dulu yang lalu kala. Ah, tidak usah saya ceritakan. Ini masalah saya dengan hujan.

Singkat cerita, sebelum saya melihat adegan yang membuat saya ngilu, saya terlebih dahulu melihat siaran berita tentang usaha Pemerintah & LSM yang konsern masalah peranakan (bukan peranakan dalam arti orang hamil ini beda jauh). ”Katanya” mereka ingin agar dalam menyambut Hari Anak Nasional 23 Juli 2009 ini dilakukan berbagai kegiatan. Macam-macamlah kegiatannya. Saya juga tidak tahu pasti. Yang jelas ada konferensi pers, aksi damai di Bundaran HI, dan propaganda mengurangi menonton TV.

Kegiatan yang menampilkan Seto Mulyadi (Komnas Perlindungan Anak), Fetty Fajriati Miftach (Komisi Penyiaran Indonesia Pusat), dan Dr.Sudjatmiko (Ikatan Dokter Anak Indonesia) ini memang ”katanya” ditujukan untuk memberikan pembelajaran agar keluarga serius terhadap masa depan anak-anak mereka. Terlebih lagi terhadap dampak negatif dari TV. Acara-acara TV sebagian besar justru berisi hal yang tidak sehat, tidak mendidik, menampilkan realitas semu, dan gaya hidup berlebihan. Intinya lebih banyak menimbulkan distruksi. Begitu yang mereka bilang.

Sampai disana saya sangat merespon positif atas usaha dan ide ini. Iya sampai disana. Sampai sebelum acara penganugerahan piala-piala yang entah atas hasil apa. Hasil balapan kerupuk kah? Entah. Saya tidak begitu menyimak ketika alasan si pememang layak mendapatkan piala itu. Yang saya lihat naiklah Luna Maya disertai Ariel Peterpan menuju podium. Dengan digemuruhi sorak-sorai anak-anak yang bagai semut gatal di bawahnya.

Klimaknya setelah Luna Maya diminta untuk speak-speak thank you atau apalah namanya. Seketika itu dari bawah berteriaklah anak-anak yang belum baligh itu. Kalau terikan takbir sih bagus. Walaupun saya bakal protes juga kalau sampai anak-anak itu teriak takbir. Masa takbir di acara seperti begitu. Sayangnya teriakan mereka justru malah seruan agar Ariel berbuat mesum pada Luna seketika itu juga di panggung. Cium... ciummm... ciummmm...

Innalilahi.... Apa yang ada di otak mereka pikir saya. Padahal sesaat lalu mereka, orang tua mereka, panitia, satpam, penyelenggara, pakar, dan semua makhluk yang hadir disana baru saja selesai menyepakati tentang arah yang lebih baik untuk anak-anak Indonesia. Kalau ternyata yang lebih baik itu saat ini seperti demikian. Seperti yang mereka biarkan itu anak-anak kecil berteriak-teriak mesum tanpa dilarang. Maka jangan salahkan saya untuk mengatakan pada Khalil Gibran bahwa ucapannya;

... Berikan mereka kasih sayangmu, tapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu, Sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri.
Patut kau berikan rumah untuk raganya, tapi tidak untuk jiwanya, Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan, Yang tiada dapat kaukunjungi, sekalipun dalam impian …

sudah tidak berlaku lagi bagi saya saat ini. [begundal militan]

Sabtu, 13 Juni 2009

Resensi: The Road To The Empire

Posted by Kak Galuh On 10.42 | No comments
Judul Buku: The Road To The Empire
Penulis: Sinta Yudisia
Penyunting: Maman S. Mahayana & Taufan E. Prast
Tebal: 586 hlm; 20,5 cm
Terbit: Cetakan 1, Desember 2008
Cetakan 2, Februari 2009
Penerbit: PT. Lingkar Pena Kreativa, 2008


The Road To The Empire, adalah sebuah kisah perjuangan heroik penuh hikmah yang terjadi pada peradaban Bangsa Mongolia, keturunan Jengis Khan yang tersohor bengis dan kejam beberapa abad lalu. Novel betikan Sinta Yudisia ini bukanlah sekedar kisah tentang perebutan kekuasaan, konspirasi, dan kudeta yang layaknya terjadi pada sebuah perjalanan kekuasaan para Kaisar. Juga bukan sekedar kisah cinta terhormat yang tersembunyi mewarnai kehidupan tokoh sentralnya. Semuanya terangkum secara apik. Tapi dibalik tema The Road To The Empire tersebut ada sebuah kisah yang menjadi ruh novel ini, yakni tentang perjuangan keimanan yang patut menjadi renungan. Sekaligus pengingat, bahwa sunnah sejarah selalu berulang. Sejak zaman Rasulullah Saw., hingga masa peradaban Mongolia yang terekam dalam novel ini, kembali sejarah menampilkan pengulangan. Jalan mendaki, terjal, fitnah, kesabaran tanpa batas, adalah resiko yang harus dihadapi dalam mempertahankan keimanan. Inilah pesan agung dari The Road To The Empire.

Adalah Tuqluq Timur Khan, seorang Kaisar Mongol yang berkuasa pada saat itu menjalin kisah persahabatan yang monumental dengan Syeikh Jamaluddin, musafir Muslim yang sedang mengembara di daratan Mongol bersama beberapa muridnya. Awalnya, pengembaraan tersebut menyebabkan Kaisar murka. Karena Sang Musafir telah dianggap menggangu waktu berburu Kaisar. Namun tak diduga, ketika Syeikh Jamaluddin ditangkap dan hendak dibunuh oleh prajurit Kaisar, Kaisar Tuqluq Timur Khan dengan kebencian penuh kesal menanyakan permintaan terakhir Syeikh Jamaluddin, segera Syeikh Jamaluddin pun menjawab pertanyaan Kaisar secara arif. Sebuah jawaban yang mencerminkan kesederhanaan serta keyakinan yang teguh. Tersentak hati Kaisar Tuqluq Timur Khan mendengar jawaban yang diutarakan Syeikh Jamaluddin. Alih-alih Syeikh Jamaluddin akan dieksekusi, Kaisar sebalikya menjadi kagum dengan Syeikh Jamaluddin. Karena ternyata jawaban yang dilontarkan Syeikh Jamaluddin berbanding terbalik dengan keyakinan warisan leluhurnya Jengis Khan. Kaisar Tuqluq Timur Khan telah mempercayai bahwa Kaisar Mongolia adalah keturunan dewa yang berhak melebarkan kekuasaan pada bangsa, dan suku lain untuk tunduk dalam sebuah imperium emas Mongolia dengan hanya satu kepemimpinan saja. Karenanya, sebagai titisan dewa ia merasa berhak untuk melakukan apapun untuk mencapai ambisi leluhurnya, meski dengan terus berperang secara keji dan tak kenal belas kasih jika ada yang menghalangi niatnya. Kesederhanaan Syeikh Jamaluddinlah yang akhirnya meruntuhkan seluruh kesombongan Tulquq Khan. Dan pada akhirnya persahabatan sejati terjalin dengan sebuah janji, bahwa suatu saat Mongol akan berdiri sebagai bangsa yang besar, beradab dalam naungan keyakinan dan kesederhanaan sejati, seperti yang diyakini oleh Syeikh Jamaluddin.

Mewanginya persahabatan tersembunyi antara Sang Kaisar dan Sang Musafir, tercium begitu anyir oleh beberapa petinggi kekaisaran, termasuk panglima besar kepercayaan Kaisar Albuqa Khan yang ingin tetap mempertahankan status quo, yakni kekuasaan mutlak dibawah kaki imperium Mongol dengan satu kepemimpinan. Mimpi buruk warisan leluhurnya itu ternyata telah begitu membutakan mata hati pendukung status quo. Sehingga mereka berani melakukan konspirasi jahat untuk melenyapkan Kaisar Tulquq Khan dan Permaisuri Ilkhata, yang bagi mereka terlalu lemah dan sudah tidak pantas memimpin bangsa Mongol yang kuat seperti serigala. Makar berhasil dilaksanakan. Kaisar dan Permaisuri wafat, dibunuh secara keji. Tetapi ketiga putra Kaisar dan Permaisuri tidak ikut dibunuh. Bahkan Pangeran pertama menghilang dari istana. Hilang dalam penyelematan diri atas titah Permaisuri dipenghujung akhir hayatnya. Karena pada Pangeran kesatulah janji yang terikat antara Kaisar Tuqluq Khan dan Syeikh Jamaluddin diwariskan. Tugas Suci yang tidak mudah ini menyebabkan Takudar sebagai putra mahkota pergi meninggalkan kedua adiknya Argun Khan dan Buzun di Istana. Takudar pergi bersama seorang dayang istana kepercayaan Permaisuri, Uchatadara. Mereka pergi ke suatu tempat dimana ahli waris satu-satunya Syeikh Jamaluddin yaitu Rasyiduddin tinggal.

Sejak menghilangnya pangeran kesatu Takudar, secara otomatis Pangeran kedualah Argun Khan yang menempati tahta kekaisaran. Kepemimpinan Argun Khan sangat dipengaruhi oleh Albuqa Khan, sehingga Argun Khan lebih terlihat seperti boneka Sang Panglima. Terlebih, Argun Khan sangat mencintai Urghana putri pertama Panglima yang cantik, cerdas, tinggi ilmu bela dirinya, dan juga memiliki kepribadian bangsawan yang santun. Namun sayang, cinta sang Kaisar bertepuk sebelah tangan, karena ternyata putri Panglima lebih mencintai Pangeran ketiga, Buzun. Pangeran ketiga yang menjabat sebagai kepala bendaharawan Kekaisaran itu, sifat dan karakternya begitu lembut dan welas asih terhadap orang miskin. Begitu jauh berbeda dengan sifat dan karakter Pangeran kedua, Argun Khan.

Kaisar Argun Khan melanjutkan ambisi leluhurnya Jengis Khan merebut Jerusalem di bawah Imperium Mongolia. Bahkan, Kaisar Argun Khan lebih kejam dari leluhurnya Jengis Khan. Meskipun leluhurnya Jengis Khan terkenal bengis dan tanpa ampun pada bangsa lain, tetapi masih berupaya untuk mensejahterakan bangsa Mongol secara keseluruhan. Berbeda dengan Argun Khan, kebijakan pemerintahannya sama sekali tidak berpihak kepada rakyat. Pendapatan negara yang diperoleh dari upeti bangsa-bangsa yang telah ditaklukkannya lebih banyak diprioritaskan untuk keperluan militer semata. Tak mengherankan bila perlengkapan perang dan pasukan yang dimiliki oleh Argun Khan adalah yang terbaik. Para pasukan dilatih dengan disiplin tinggi dan sangat keras pada perguruan-perguruan bela diri terbaik di negeri Mongolia. Tak hanya perlengkapan militer dan fisik, mental pasukan juga di persiapkan sedemikian rupa, hingga pada saat terjun ke medan perang mereka menjadi prajurit-prajurit tangguh yang tidak memiliki belas kasih sedikitpun, bagaikan serigala kelaparan yang memangsa domba tanpa ampun dan hanya menyisakan tulang-belulang saja. Rakyat yang semakin menderita hanya dapat memendam ketidakpuasan tersebut, karena takut akan tebasan pedang para algojo berbadan besar yang siap kapan saja menghujamkan pedang tajamnya atas perintah Kaisar Argun Khan. Kelak situasi ini yang akhirnya menjadi bumerang bagi Argun Khan saat menghadapi kakaknya, sang pangeran ke satu Takudar Khan dalam sebuah peperangan bersejarah.

Jika Argun Khan memiliki perlengkapan senjata dan pasukan yang memadai untuk dipersiapkan pada sebuah perang penaklukkan, sebaliknya Pangeran kesatu Takudar Khan tidak memiliki setengahpun dari apa yang dimiliki oleh adiknya. Di sisi Takudar hanya ada segelintir sahabat kaum Muslimin yang kerap menyemangatinya untuk menghentikan kekejian Argun Khan dengan perlawanan berbalutkan keimanan. Berbekal pendidikan santri di Babusallam tempat Rasyiduddin, Takudar Khan yang menyamar sebagai Baruji dalam pelariannya, mulai mengumpulkan strategi untuk menghentikan kekejaman Argun Khan. Dalam perenungannya pada misi besar dan mulia itu Takudar dihadapkan oleh perang batin yang dahsyat dan menguras seluruh emosinya. Tak dapat dipungkiri dalam darahnya mengalir deras ambisi Mongolia sebagai bangsa penakluk yang tak terkalahkan, berseberangan dengan aqidah yang telah diimaninya, dimana penegakkan keadilan dan perlawanan kepada pemerintahan lalim dan jahil dibawah panji Diinullah adalah sebuah kewajiban. Terbayang olehnya menghadapi kedua saudara kandungnya Argun dan Buzun, bukanlah perkara mudah mengingat mereka pernah tumbuh bersama dalam kedamaian masa kecil yang indah. Tapi tentu saja iman bukanlah hal yang pantas dipertaruhkan hanya karena darah yang sama. Saudara sekalipun, jika telah melewati batas-batas kemanusiaan akan menjadi musuh bagi keimanan yang diyakininya.

Masa-masa penyusunan strategi dan kekuatan bagi Takudar dan pasukan Muslim disekitar daratan Mongolia adalah masa-masa terberat. Pada prosesnya Takudar berhasil mendapatkan kitab sejarah perang milik Jengis Khan yang dicuri oleh Uchatadara. Kitab inilah yang menjadi gambaran bagi Takudar untuk membaca kekuatan lawan dibalik persiapan minimalis yang dimilikinya. Selain kitab tersebut, Takudar dibantu oleh beberapa Syeikh berpengalaman mengkaji strategi-strategi perang milik Rasulullah Saw. dan Sahabat, yang dalam sejarahnya kerap memenangkan perang meski dengan jumlah pasukan dan peralatan perang terbatas, jauh dengan apa yang dimiliki lawannya. Kunci dari rahasia terbesar Rasulullah Saw. dan pasukannya yang tidak didapati pada kitab sejarah perang milik Jengis Khan adalah keimanan, berpegang teguh kepada Diinullah. Bagi Takudar dan pasukannya, kunci rahasia tersebut adalah senjata paling ampuh diantara sekian banyak senjata perang tercanggih yang dimiliki oleh Argun Khan pada saat itu. Islam dengan segala kesempurnaannya telah memberi keuntungan bagi para pemeluknya. Jika mati dalam peperangan maka mereka meraih syahid, dan jika menang kemulianlah yang diraihnya. Oleh karenanya, meskipun tidak lebih dari sepuluh ribu pasukan, mereka tak gentar sedikitpun melawan pasukan Kaisar Argun Khan yang jumlahnya dua puluh kali lipat dari mereka.

Benar saja. Disaat perang antara kedua pasukan tak bisa dihindari lagi, pasukan Muslim yang meski sempat mengacau-balaukan barisan pasukan Argun Khan, secara tiba-tiba berkurang sedikit demi sedikit karena jumlah yang tak sepadan. Tapi tentu kematian mereka bukanlah sesunguhnya kematian. Terbayang pula begitu banyak bidadari-bidadari cantik yang menyambut diatas langit daratan Mongolia, menjemput jiwa-jiwa syahid yang tak pernah tersesat dalam kepulangannya. Pada saat Argun Khan merasa kemenangan berpihak padanya, dengan penuh kesombongan serupa Fir’aun dikarenakan pasukan lawan hanya tersisa Takudar Khan sebagai pemimpin dan beberapa orang sahabat saja, tiba-tiba saja Argun Khan dikagetkan oleh senjata rahasia milik kaum Muslimin bernama keimanan. Situasi yang semula berada dalam genggaman Argun Khan dibalikan seketika oleh Dzat Maha Besar yang tak pernah dikenal dan diyakini oleh Argun Khan selama ini. Sebagian pasukan Argun Khan yang telah lama muak dengan kelalimannya memecah diri dan berbalik memihak pewaris tahta sesungguhnya, Takudar Khan. Dengan harapan keadaan Mongolia akan lebih baik pada pundak Pangeran ke satu itu yang terlihat lebih bijak dan bersahaja. Belum reda sakit hati Argun Khan atas pengkhianatan pasukannya, ia di kejutkan pula oleh bala bantuan pasukan Muslimin yang datangnya dari Mesir untuk mengalahkan pasukan Argun Khan yang sebelumnya telah terpecah belah terlebih dulu. Dengan segala keyakinan yang di miliki Muhammad Takudar Khan, ia telah mampu menundukkan kezaliman yang diciptakan oleh adik kandungnya sendiri. Tunai sudah janji pada Ilahnya, pada kaum Muslimin taklukan Mongol, dan tentu pada Sang Ayah yang sedang tersenyum puas di alam yang terpisah jauh jaraknya dari alam kemenangannya saat itu.

Kisah epik ini, patut menjadi sumber inspirasi dan penyemangat bagi siapapun yang merasa bahwa kejayaan Islam sudah tidak mungkin lagi terjadi di dunia. Perjalanan perjuangan Takudar Khan tergambar jelas pada surat At-Taubah: 25-26. “Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para Mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada rasulNya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan Bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir”. Maka dari itu, perjuangan menegakkan Diinullah tidak akan pernah berakhir dan terhenti meski zaman terus berubah. Keimanan atas Diinullah inilah perjuangan akan terus berlanjut, hingga kejayaan Islam kembali. Dan Aqidah atas Diinullah menjadi kunci rahasia kejayaan itu. [gkw]



KOMENTAR SAHABAT

INSIST

Hidayatullah ONLINE