PEMERINTAH,
melalui Kementerian Pendidikan Nasional sudah mencanangkan penerapan
pendidikan karakter untuk semua tingkat pendidikan, dari SD-Perguruan
Tinggi. Menurut Mendiknas, Prof. Muhammad Nuh, pembentukan karakter
perlu dilakukan sejak usia dini. Jika karakter sudah terbentuk sejak
usia dini, kata Mendiknas, maka tidak akan mudah untuk mengubah
karakter seseorang. Ia juga berharap, pendidikan karakter dapat
membangun kepribadian bangsa. Mendiknas mengungkapkan hal ini saat
berbicara pada pertemuan Pimpinan Pascasarjana LPTK Lembaga Pendidikan
Tenaga Kependidikan (LPTK) se-Indonesia di Auditorium Universitas
Negeri Medan (Unimed), Sabtu (15/4/2010).
Munculnya gagasan
program pendidikan karakter dalam dunia pendidikan di Indonesia, bisa
dimaklumi, sebab selama ini dirasakan, proses pendidikan ternyata belum
berhasil membangun manusia Indonesia yang berkarakter. Bahkan, banyak
yang menyebut, pendidikan telah gagal membangun karakter. Banyak
lulusan sekolah dan sarjana yang piawai dalam menjawab soal ujian,
berotak cerdas, tetapi mentalnya lemah, penakut, dan perilakunya tidak
terpuji.
Bahkan, bisa dikatakan, dunia Pendidikan di Indonesia kini sedang
memasuki masa-masa yang sangat pelik. Kucuran anggaran pendidikan yang
sangat besar disertai berbagai program terobosan sepertinya belum mampu
memecahkan persoalan mendasar dalam dunia pendidikan, yakni bagaimana
mencetak alumni pendidikan yang unggul, yang beriman, bertaqwa,
profesional, dan berkarakter.
Dr. Ratna Megawangi, dalam bukunya,
Semua Berakar Pada Karakter
(Jakarta: Lembaga Penerbit FE-UI, 2007), mencontohkan, bagaimana
kesuksesan Cina dalam menerapkan pendidikan karakter sejak awal tahun
1980-an. Menurutnya, pendidikan karakter adalah untuk mengukir akhlak
melalui proses
knowing the good, loving the good, and acting the good. Yakni, suatu proses pendidikan yang melibatkan aspek kognitif, emosi, dan fisik, sehingga akhlak mulia bisa terukir menjadi
habit of the mind, heart, and hands.Dalam bukunya,
Pendidikan Karakter: Strategi Mendidik Anak di Zaman Global,
(2010), Doni Koesoema Albertus menulis, bahwa pendidikan karakter
bertujuan membentuk setiap pribadi menjadi insan yang berkeutamaan.
Dalam pendidikan karakter, yang terutama dinilai adalah perilaku, bukan
pemahamannya. Doni membedakan pendidikan karakter dengan pendidikan
moral atau pendidikan agama. Pendidikan agama dan kesadaran akan
nilai-nilai religius menjadi motivator utama keberhasilan pendidikan
karakter.
Tetapi, Doni yang meraih sarjana teologi di
Universitas Gregoriana Roma Italia, agama tidak dapat dipakai sebagai
pedoman pengatur dalam kehidupan bersama dalam sebuah masyarakat yang
plural. "Di zaman modern yang sangat multikultural ini, nilai-nilai
agama tetap penting dipertahankan, namun tidak dapat dipakai sebagai
dasar kokoh bagi kehidupan bersama dalam masyarakat. Jika nilai agama
ini tetap dipaksakan dalam konteks masyarakat yang plural, yang terjadi
adalah penindasan oleh kultur yang kuat pada mereka yang lemah,"
tulisnya.
Oleh karena itu, simpul Doni K. Albertus, meskipun
pendidikan agama penting dalam membantu mengembangkan karakter
individu, ia bukanlah fondasi yang efektif bagi suatu tata sosial yang
stabil dalam masyarakat majemuk. Dalam konteks ini, nilai-nilai moral
akan bersifat lebih operasional dibandingkan dengan nilai-nilai agama.
Namun demikian, nilai-nilai moral, meskipun bisa menjadi dasar
pembentuk perilaku, tidak lepas dari proses hermeneutis yang bersifat
dinamis dan dialogis.
Sebagai Muslim, kita tentu tidak
sependapat dengan pandangan Doni K. Albertus semacam itu. Sebab, bagi
Muslim, nilai-nilai Islam diyakini sebagai pembentuk karakter dan
sekaligus bisa menjadi dasar nilai bagi masyarakat majemuk. Masyarakat
Madinah yang dipimpin Nabi Muhamamd saw, berdasarkan kepada nilai-nilai
Islam, baik bagi pribadi Muslim maupun bagi masyarakat plural. Tentu
kita memahami pengalaman sejarah keagamaan yang berbeda antara Katolik
dengan Islam.
Namun, dalam soal pendidikan karakter bagi anak
didik, berbagai agama bisa bertemu. Islam dan Kristen dan berbagai
agama lain bisa bertemu dalam penghormatan terhadap nilai-nilai
keutamaan. Nilai kejujuran, kerja keras, sikap ksatria, tanggung jawab,
semangat pengorbanan, dan komitmen pembelaan terhadap kaum lemah dan
tertindas, bisa diakui sebagai nilai-nilai universal yang mulia. Bisa
jadi, masing-masing pemeluk agama mendasarkan pendidikan karakter pada
nilai agamanya masing-masing.
Terlepas dari perdebatan
konsep-konsep pendidikan karakter, bangsa Indonesia memang memerlukan
model pendidikan semacam ini. Sejumlah negara sudah mencobanya.
Indonesia bukan tidak pernah mencoba menerapkan pendidikan semacam ini.
Tetapi, pengalaman menunjukkan, berbagai program pendidikan dan
pengajaran – seperti pelajaran Budi Pekerti, Pendidikan Pancasila dan
Kewargaan Negara (PPKN), Pendidikan Moral Pancasila (PMP), Pedoman
Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4), – belum mencapai hasil
optimal, karena pemaksaan konsep yang sekularistik dan kurang seriusnya
aspek pengalaman. Dan lebih penting, tidak ada contoh dalam program
itu! Padahal, program pendidikan karakter, sangat memerlukan contoh dan
keteladanan. Kalau hanya slogan dan ’omongan’, orang Indonesia dikenal
jagonya!
Harap maklum, konon, orang Indonesia dikenal piawai
dalam menyiasati kebijakan dan peraturan. Ide UAN, mungkin bagus!
Tapi, di lapangan, banyak yang bisa menyiasati bagaimana siswanya lulus
semua. Sebab, itu tuntutan pejabat dan orangtua. Guru tidak berdaya.
Kebijakan sertifikasi guru, bagus! Tapi, karena mental materialis dan
malas sudah bercokol, kebijakan itu memunculkan tradisi berburu
sertifikat, bukan berburu ilmu! Bukan tidak mungkin, gagasan Pendidikan
Karakter ini nantinya juga menyuburkan bangku-bangku seminar demi
meraih sertifikat pendidikan karakter, untuk meraih posisi dan jabatan
tertentu.
*****
Mohammad
Natsir, salah satu Pahlawan Nasional, tampaknya percaya betul dengan
ungkapan Dr. G.J. Nieuwenhuis: ”Suatu bangsa tidak akan maju, sebelum
ada di antara bangsa itu segolongan guru yang suka berkorban untuk
keperluan bangsanya.”
Menurut rumus ini, dua kata kunci kemajuan
bangsa adalah “guru” dan “pengorbanan”. Maka, awal kebangkitan bangsa
harus dimulai dengan mencetak “guru-guru yang suka berkorban”. Guru
yang dimaksud Natsir bukan sekedar “guru pengajar dalam kelas formal”.
Guru adalah para pemimpin, orangtua, dan juga pendidik. Guru adalah
teladan. “Guru” adalah “digugu” (didengar) dan “ditiru” (dicontoh).
Guru bukan sekedar terampil mengajar bagaimana menjawab soal Ujian
Nasional, tetapi diri dan hidupnya harus menjadi contoh bagi
murid-muridnya.
Mohammad Natsir adalah contoh guru sejati, meski
tidak pernah mengenyam pendidikan di fakultas keguruan dan pendidikan.
Hidupnya dipenuhi dengan idealisme tinggi memajukan dunia pendidikan
dan bangsanya. Setamat AMS (Algemene Middelbare School) di Bandung, dia
memilih terjun langsung ke dalam perjuangan dan pendidikan. Ia dirikan
Pendis (Pendidikan Islam) di Bandung. Di sini, Natsir memimpin,
mengajar, mencari guru dan dana. Terkadang, ia keliling ke sejumlah
kota mencari dana untuk keberlangsungan pendidikannya. Kadangkala,
perhiasan istrinya pun digadaikan untuk menutup uang kontrak tempat
sekolahnya.
Disamping itu, Natsir juga melakukan terobosan
dengan memberikan pelajaran agama kepada murid-murid HIS, MULO, dan
Kweekschool (Sekolah Guru). Ia mulai mengajar agama dalam bahasa
Belanda. Kumpulan naskah pengajarannya kemudian dibukukan atas
permintaan Sukarno saat dibuang ke Endeh, dan diberi judul
Komt tot Gebeid (Marilah Shalat).
Kisah
Natsir dan sederet guru bangsa lain sangat penting untuk diajarkan di
sekolah-sekolah dengan tepat dan benar. Natsir adalah contoh guru yang
berkarakter dan bekerja keras untuk kemajuan bangsanya. Ia adalah orang
yang sangat haus ilmu. Cita-citanya bukan untuk meraih ilmu kemudian
untuk mengeruk keuntungan materi dengan ilmunya. Tapi, dia sangat haus
ilmu, lalu mengamalkannya demi kemajuan masyarakatnya.
*****
Pada 17 Agustus 1951, hanya 6 tahun setelah kemerdekaan RI, M. Natsir melalui sebuah artikelnya yang berjudul
“Jangan Berhenti Tangan Mendayung, Nanti Arus Membawa Hanyut”,
Natsir mengingatkan bahaya besar yang dihadapi bangsa Indonesia, yaitu
mulai memudarnya semangat pengorbanan. Melalui artikelnya ini, Natsir
menggambarkan betapa jauhnya kondisi manusia Indonesia pasca
kemerdekaan dengan pra-kemerdekaan. Sebelum kemerdekaan, kata Natsir,
bangsa Indonesia sangat mencintai pengorbanan. Hanya enam tahun sesudah
kemerdekaan, segalanya mulai berubah. Natsir menulis:
“Dahulu,
mereka girang gembira, sekalipun hartanya habis, rumahnya terbakar,
dan anaknya tewas di medan pertempuran, kini mereka muram dan kecewa
sekalipun telah hidup dalam satu negara yang merdeka, yang mereka
inginkan dan cita-citakan sejak berpuluh dan beratus tahun yang lampau…
Semua orang menghitung pengorbanannya, dan minta dihargai…Sekarang
timbul penyakit bakhil. Bakhil keringat, bakhil waktu dan merajalela
sifat serakah… Tak ada semangat dan keinginan untuk memperbaikinya.
Orang sudah mencari untuk dirinya sendiri, bukan mencari cita-cita yang
diluar dirinya...”
Peringatan Natsir hampir
60 tahun lalu itu perlu dicermati oleh para elite bangsa, khususnya
para pejabat dan para pendidik. Jika ingin bangsa Indonesia menjadi
bangsa besar yang disegani di dunia, wujudkanlah guru-guru yang
mencintai pengorbanan dan bisa menjadi teladan bagi bangsanya.
Beberapa tahun menjelang wafatnya, Natsir juga menitipkan pesan kepada
sejumlah cendekiawan yang mewawancarainya, ”Salah satu penyakit bangsa
Indonesia, termasuk umat Islamnya, adalah berlebih-lebihan dalam
mencintai dunia.” Lebih jauh, kata Natsir:
”Di
negara kita, penyakit cinta dunia yang berlebihan itu merupakan gejala
yang ”baru”, tidak kita jumpai pada masa revolusi, dan bahkan pada masa
Orde Lama (kecuali pada sebagian kecil elite masyarakat). Tetapi,
gejala yang ”baru” ini, akhir-akhir ini terasa amat pesat
perkembangannya, sehingga sudah menjadi wabah dalam masyarakat. Jika
gejala ini dibiarkan berkembang terus, maka bukan saja umat Islam akan
dapat mengalami kejadian yang menimpa Islam di Spanyol, tetapi bagi
bangsa kita pada umumnya akan menghadapi persoalan sosial yang cukup
serius.”
*****
Seorang
dosen fakultas kedokteran pernah menyampaikan keprihatinan kepada
saya. Berdasarkan survei, separoh lebih mahasiswa kedokteran di
kampusnya mengaku, masuk fakultas kedokteran untuk mengejar materi.
Menjadi dokter adalah baik. Menjadi ekonom, ahli teknik, dan berbagai
profesi lain, memang baik. Tetapi, jika tujuannya adalah untuk mengeruk
kekayaan, maka dia akan melihat biaya kuliah yang dia keluarkan
sebagai investasi yang harus kembali jika dia lulus kuliah. Ia kuliah
bukan karena mencintai ilmu dan pekerjaannya, tetapi karena berburu
uang!
Kini, sebagaimana dikatakan Natsir, yang dibutuhkan bangsa ini adalah
“guru-guru sejati” yang
cinta berkorban untuk bangsanya. Bagaimana murid akan berkarakter;
jika setiap hari dia melihat pejabat mengumbar kata-kata, tanpa amal
nyata. Bagaimana anak didik akan mencintai gurunya, sedangkan mata
kepala mereka menonton guru dan sekolahnya materialis, mengeruk
keuntungan sebesar-besarnya melalui lembaga pendidikan.
Pendidikan
karakter adalah perkara besar. Ini masalah bangsa yang sangat serius.
Bukan urusan Kementerian Pendidikan semata. Presiden, menteri, anggota
DPR, dan para pejabat lainnya harus memberi teladan. Jangan minta
rakyat hidup sederhana, hemat BBM, tapi rakyat dan anak didik dengan
jelas melihat, para pejabat sama sekali tidak hidup sederhana dan
mobil-mobil mereka – yang dibiayai oleh rakyat – adalah mobil impor dan
sama sekali tidak hemat.
Pada skala mikro, pendidikan karakter
ini harus dimulai dari sekolah, pesantren, rumah tangga, juga Kantor
Kementerian Pendidikan dan Kementerian Agama. Dari atas sampai ke
bawah, dan sebaliknya. Sebab, guru, murid, dan juga rakyat sudah
terlalu sering melihat berbagai paradoks. Banyak pejabat dan tokoh
agama bicara tentang taqwa; berkhutbah bahwa yang paling mulia diantara
kamu adalah yang taqwa. Tapi, faktanya, saat menikahkan anaknya, yang
diberi hak istimewa dan dipandang mulia adalah pejabat dan yang
berharta. Rakyat kecil dan orang biasa dibiarkan berdiri berjam-jam
mengantri untuk bersalaman.
Kalau para tokoh agama, dosen, guru,
pejabat, lebih mencintai dunia dan jabatan, ketimbang ilmu, serta
tidak sejalan antara kata dan perbuatan, maka percayalah, Pendidikan
Karakter yang diprogramkan Kementerian Pendidikan hanya akan berujung
slogan! [
Depok, Juni 2010/hidayatullah.com]-[
insist]