Jumat, 12 Maret 2010

Untaian Hati

Posted by Kak Galuh On 11.52 | No comments
Belahan jiwaku...
Meski kita terikat pada ikatan sakral yang melebur di mata Sang Maha Pencinta, tapi aku selalu sadar, engkau tidak terikat sepenuhnya padaku. Hatimu yang mengembara mengajak serta ragamu, membuatku harus mengikhlaskan separuh ikatan itu. Karena pengembaraan ini untuk kemuliaan sejati kehidupan.

Belahan jiwaku...
Aku tahu engkau bukan kesempurnaan. Karena sempurna hanyalah milik Sang Maha Sempurna. Keterbatasan yang ada padamu secara utuh, selalu memberiku ruang untuk belajar banyak. Belajar menerima dan mencintai tanpa berkeluh kesah. Dan saat-saat penerimaan itu menyentuh kalbu. Aku merasa bebas. Bebas dari ke-egoan insan yang fana. Setelahnya, akan berbuah nikmat di relung kalbu yang labil.

Belahan jiwaku...
Ketika hampir seluruh sudut menggambarkanmu bagaikan ombak yang menggulung keras pada pinggiran pantai, dimana dalam kekerasan itu engkau mampu menghempaskan buih-buih cinta yang bernama keluarga tanpa ampun. Namun bagiku, engkau tak terlihat sedang menghempaskan. Melainkan sedang menyelamatkan buih-buih itu agar tak terhanyut di tengah samudra kehidupan yang gelap tak tersentuh cahaya mentari keimanan, yang mampu menenggelamkan buih-buih itu setiap saat ia mau tanpa tersisa.

Belahan jiwaku...
Berulang kali saat kita terbentur oleh tingginya gunung masalah yang meletus penuh lava panas perasaan atas pemahaman yang berbeda, berulang pula aku mengerti, bahwa mencintai bukan hanya terpuaskan saat kita sepaham, melainkan sejauh mana kita mampu membasuh dingin ceceran perbedaan lava perasaan tersebut dengan kucuran kristal air maaf dan pengertian yang mengalir.

Belahan jiwaku...
Saat-saat tersyahduku bersamamu adalah menyaksikan ragamu berjalan mengikuti fitrahnya tunduk pada setiap jengkal ketentuanNya akan alam ini dan seisinya. Saat-saat menggetarkan bersamamu, adalah saat-saat engkau menangisi waktumu yang terlewat atas tidak terpenuhinya fitrah ragamu itu untuk merengkuh mesra Pemiliknya. Saat-saat terindah bersamamu adalah ketika engkau menceritakan pengembaraanmu menemuiNya, di setiap sudut bumi yang telah tereuforia oleh kehedonan yang tak bertiang. Dan, tahukah engkau, betapa ingin raga ini pun turut menyaksikan dan merasakan pengalaman-pengalaman indah itu bersamamu.

Belahan jiwaku...
Di setiap perjalanan jauh pengembaraanmu, dimana engkau meninggalkan kami hanya berbekal doa agar Sang Maha Penjaga menjaga kami, maka disaat itu pula aku selalu berharap ketika pulang engkau mengoleh-olehi kami dengan tambahnya ketundukanmu padaNya. Karena ketika hatimu semakin dipenuhi oleh ketundukan pada Sang Pemilik Hati di seluruh jagat ini, maka akan semakin kuat kami mampu menghadapi derasnya hujan ujian disaat kau bersama kami dan atau disaat kau jauh dari kami. Kerinduan yang mendalam atas perpisahan yang kerap terjadi ini, memecut kami untuk menjadi lebih sadar bahwa kefanaan tak mungkin dapat berjaya untuk kami rengkuh.

Belahan jiwaku...
Jika suatu saat pengembaraanmu terhenti karena ragamu tak kuasa lagi bertemu dengan Pemiliknya… kami akan hantarkanmu dengan penuh kebanggaan di hati kami yang membekas. Warisi kami dengan keimananmu saja… kami tak minta lebih… [gkw]

Kamis, 25 Februari 2010

Hanya Seonggok Daging....

Posted by Kak Galuh On 15.51 | No comments
Detik waktu semakin cepat berjalan. Ketika itu adalah ketiga kalinya aku memasuki ruangan operasi. Bau khas rumah sakit yang begitu menyengat membangkitkan memori beberapa waktu lalu saat meja operasi itu adalah juga menjadi pilihan terakhir yang terpaksa aku pilih agar calon-calon generasi penerus risalah yang telah bersemayam pada rahimku dapat lahir dengan selamat.

Semuanya berjalan dengan begitu lancar hingga satu-persatu wajah-wajah mungil tanpa dosa itu hadir dalam pelukan. Kebahagiaan menjadi pemegang amanah mengalahkan segala rasa sakit sayatan berulang yang tak karuan itu. Satu jam setelah jahitan tujuh lapis kulit lengkap tertutup, seperti biasanya raga yang setengahnya masih terbius obat bius lokal itu digiring dengan cepat ke ruang pemulihan. Satu persatu suster meninggalkanku sendiri agar tubuh yang baru saja tersayat untuk ketiga kalinya itu dapat beristirahat sejenak.

Ku tengok bagian tubuh yang terbius. Hingga ujung kaki ia tak kan mampu bergerak hingga kurang lebih dua jam ke depan. Kesendirian ini, tiba-tiba begitu menakutkanku meski ini bukan pengalaman pertama tapi rasanya saat itu adalah saat yang paling menakutkan. Tubuhku yang terbius tak mampu bergerak… menjadi seonggok daging tak bernyawa. Meski hanya separuh yang tak bernyawa, tapi bayangan bahwa saat itu raga ini sedang berada di kedalaman tanah dua meter dengan papan nisan diatasnya kerap membayangi. Beginikah rasanya menjadi daging tanpa nyawa? Beginikah rasanya ingin bergerak tapi tak mampu karena selain tak bernyawa juga sudah tertimbun tanah merah dengan segala penghuninya. Penghuni yang siap berebut menyantap seonggok daging tanpa nyawa itu bagaikan menyatap makanan pada sebuah pesta pora. Belum lagi ketika datang siksa kubur sebagai pertanggung jawaban atas semua tingkah laku ketika raga itu masih bernyawa dan bisa bergerak sesuka hati. Hati yang terkadang penuh nafsu. Hati yang terkadang penuh kesombongan dan merasa bahwa tubuh yang bergerak ini adalah atas kehendak diri sendiri. Hati yang tak menyadari bahwa sesungguhnya yang menggerakkan tubuh ini adalah Yang Maha Memberi Hidup. Hati yang tertutup dari rasa fitrah bahwa dari ujung kaki hingga ujung rambut, semuanya memiliki fitrah untuk di tunaikan dalam menyembah Penciptanya.

Astagfirullah…. Masihkah raga yang ternyata masih diberi kesempatan untuk bergerak ini mampu menunaikan hak-haknya untuk tunduk pada Penciptanya, Sang Maha Kuasa hingga seonggok daging ini betul-betul tak bernyawa kelak???? Wallahualam   [gkw]

Jumat, 19 Februari 2010

Cintakku Bukan Milikku

Posted by Kak Galuh On 15.44 | No comments
Aktualisasi diri seorang wanita pada umumnya tercapai ketika ia memiliki keluarga yang utuh. Suami yang mengayomi, serta anak-anak yang membanggakan. Namun pencapaian ini tak akan selamanya tergenggam dengan seterusnya tanpa terlepas. Bercita-cita menjadikan keluarga sebagai keluarga yang sakinah, mawwadah tentu impian setiap wanita ketika mereka memulai ikrar kesetiaan di pintu gerbang pernikahan. Alangkah indahnya hidup ini, karena dengan pernikahan, wanita telah menyempurnakan fitrahnya yang mulia di mata Allah.

Ujian akan datang menerpa setiap pintu pernikahan yang telah dimulai. Dan dari situlah cinta yang sebenarnya akan teruji. Semakin kokoh pintu itu terjaga, semakin kokoh pula ujian yang datang mengetuknya dengan kencang. Semua berawal dengan niat yang baik. tapi kita tidak pernah tahu akhirnya seperti apa. Yang kita bisa lakukan memohon pada Yang Maha Akhir untuk memberikan kita akhir yang sesempurna awalnya.

Betapa besar cinta kita pada suami dan betapapun dahsyatnya cinta kita pada anak-anak. Tetap kita tak kan dapat menggenggam mereka seterusnya dalam tangan kita yang penuh kasih dan cinta itu. Mereka hanya hadir sementara pada kehidupan kita. mereka hanya titipan. Tak lama. Tak abadi. Sewaktu-waktu mereka bisa pergi. Mencintai yang lain dan menorehkan luka pada kita. Tapi kita bisa sembuhkan luka itu jika kita memiliki rasa cinta yang lain. Rasa cinta yang tak pernah terkhianati oleh cinta fana yang ada di sudut dunia manapun. Rasa cinta pada Pemilik semua cinta. Ia tak pernah tinggalkan kita. CintaNya pada kita tak pernah luntur.

Tak seperti kita yang hanya puas dengan mencintai suami dan anak-anak semata tanpa mau tahu siapa yang memberikan suami dan anak-anak itu pada kita. Pada akhirnya ketika Yang Maha Memberi itu mengambil kembali pemberianNya pada kita, KITA BISA APA??? KITA TIDAK AKAN BISA BERBUAT APA-APA!!!! KARENA KITA BUKAN SIAPA-SIAPA!!! Oleh karenannya cintaku yang begitu syahdu pada suamiku, dan juga cintaku yang begitu dalam pada anak-anakku... tetap saja cinta itu bukan milikku..... [gkw]

Sabtu, 13 Februari 2010

Sang Ibu yang menunaikan hak anaknya

Posted by Kak Galuh On 10.07 | No comments
Adalah Ummu Hani' (Fakhitah binti Abi Tholib bin Abdul Munthalib), terlahir dari keluarga pemuka Quraisy menjadikan dirinya wanita yang cukup disegani dan di hormati pada masanya karena ia banyak mengemukakan pendapat dan juga memiliki adab yang tinggi.

Sebelum Rasulullah SAW mendapat tugas menjadi pengemban amanah risalah, pada masa jahiliyah, Rasulullah SAW pernah meminang Ummu Hani’, namun ayahnya telah menjajikannya kepada Hubairah bin Abi Wahb.

Pada masa permulaan Islam, Ummu Hani' masuk Islam sedangkan suaminya tetap bertahan pada agama warisan leluhur. Maka hukum Islam memisahkan keduanya, dan ia tetap memelihara keempat anaknya yang masih kecil.

kemudian untuk kedua kalinya Rasulullah SAW meminangnya. namun meski pada saat itu yang meminangnya adalah Rasulullah SAW, ia menjawabnya dengan penolakan yang sangat santun. "Wahai, Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai daripada pendengaran dan penglihatanku, sedangkan hak suami itu besar. maka jika aku mengurusi suamiku, aku khawatir menyia-nyiakan sebagian urusan dan anak-anakku. Namun jika aku mengurusi anak-anakku, aku khawatir menyia-nyiakan hak suamiku", kemudian Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya sebaik-baik wanita yang menaiki unta diantara wanita Quaraisy ialah yang paling menyayangi anak di waktu kecilnya dan paling memperhatikan kepentingan suami dalam harta miliknya. Andaikata aku tahu bahwa Maryam binti Imran menaiki unta, niscaya aku tidak melebihkan seorang pun diatasnya".(Ath-Thabaqatul Kubra, Juz 7, halaman 32. Al-Ishaabah, Juz 8 halaman 287).

Betapa asih Ummu Hani dalam menunaikan hak anak-anaknya, karena keimanannya yang tinggi kepada Allah SWT, Ummu Hani membebaskan dirinya dari kecintaannya atas posisi Ummul mukminin yang mulia dan utama diantara para wanita mukmin. Subhanallah…

Sejumput warisan kisah kasih seorang bunda yang begitu mulia…. Semoga bermanfaat untuk kita jadikan ibroh… khusus bagi setiap bunda yang berani mengambil keputusan menjadi single parent karena suatu uzur yang haq…. Wallahualam. [gkw]

Selasa, 08 September 2009


SITI HAJAR, wanita istimewa yang menggoreskan arti emansipasi sesungguhnya dalam sejarah Tauhid. dilahirkan sebagai budak tak lantas membuat derajatnya menjadi hina. justru melalui beliau, Allah memperkenalkan ketauhidan tak hanyalah milik bangsawan ataupun kaum rahib yang memang sudah terlahir dalam lingkungan yang mendukung. Tauhid dapat dimiliki sebagai harta sekaligus kebebasan terbesar seorang insan yang menyerahkan dirinya hanya pada Allah semata, meskipun insan tersebut hanya berstatus sebagai budak sekalipun. pada kisah Siti Hajar, Allah juga menggambarkan begitu Indah dan mulianya Tauhid yang juga bisa di tembus oleh kebebasan gender (baca:emansipasi). Karena bagi Allah, yang termulia di MataNya adalah yang memiliki ketauhidan sempurna tanpa keraguan tak perduli apakah itu perempuan ataupun laki-laki.

Dinikahi oleh Nabiyullah Ibrahim AS atas anjuran Siti Sarah adalah dengan niat agar Nabiyullah Ibrahim AS dapat memiliki keturunan sebagai penerus risalah. Sebelumnya, mungkin bermimpipun tidak Siti Hajar akan diangkat derajatnya begitu tinggi menjadi istri seorang Nabi. namun Allah telah menganugrahkan kemuliaan ini padanya sebagai hadiah yang membuat jalan hidupnya menjadi lebih berarti dari sebelumnya yang sekedar sebagai budak hina biasa. belum henti kegembiraannya akan anugrah tersebut, ia di beri lagi anugrah mulia lainnya berupa kelahiran Ismail yang kelak oleh Allah juga di angkat derajatnya menjadi seorang Nabi layaknya ayahanda Ibrahim AS. Kebahagiaan yang begitu lengkap sebagai seorang wanita yang telah memiliki keluarga utuh membuat Siti Hajar tak henti-hentinya bersyukur atas nikmat yang telah Allah berikan padanya.

Namun demikian, sudah Sunatullah ketika seseorang telah diangkat derajatnya oleh Allah, maka ia akan diberi ujian untuk menegtahui apakah kemuliaan tersebut dapat bertahan dalam jendela Tauhid yang merupakan fitrah setiap insan yang tercipta di dunia ini? Dengan bermaksud lebih memuliakannya lagi, Siti Hajar diletakkan pada situasi, dimana ia harus berpisah dengan suami tercintanya di tengah padang gersang tak berpenghuni hanya bersama anaknya Ismail yang masih bayi. Tentu keadaan ini bukanlah keadaan yang mudah bagi seorang istri yang baru saja mendapatkan anugrah sebuah keluarga yang utuh. Ia akan tinggal di padang itu tanpa suami yang juga sudah tentu tidak akan menafkahinya lahir batin selama ia dan Ismail berada di padang tersebut. Tapi sudah pasti Allah meletakkan Siti Hajar pada situasi tersebut karena telah mampu melihat kapasitas keimanan Siti Hajar yang istimewa.

Dengan penuh ketaatan, Siti Hajar menerima perpisahan yang mengharukan dengan suaminya tanpa bantahan sedikitpun, juga tanpa permintaan untuk bercerai karena pada kondisi tersebut, ia tak akan dinafkahi suaminya dalam jangka waktu yang tidak sebentar. Kesetiaannya pada Allah SWT dan pada suaminya Nabiyullah Ibrahim AS telah membentuknya menjadi wanita yang melaksanakan emansipasi sesungguhnya. Dengan jerih payah dan tanggung jawabnya sebagai seorang bunda, ia berusaha mencarikan air bagi bayi Ismail yang sedang kehausan di tengah padang gersang nan tandus. Dengan penuh ketaatan dan ketakwaan ia berlari-lari antara bukit safa dan marwah berharap ada oase ataupun insan lain yang lewat memberinya keajaiban setetes air. Namun harapannya tak segera terjawab. Bukanlah Siti Hajar jika harus menyerah begitu saja pada keadaan. Mentalnya sebagai budak yang telah terbiasa hidup susah telah membuatnya menjadi seorang wanita yang tangguh. Kembali dengan keimanan yang penuh, ia berlari lagi diantara kedua bukit kecil itu hingga tujuh kali. Karena ia tak juga mendapatkan apa-apa, akhirnya ia kembali pada Ismail untuk melihat keadaan buah hati tercintanya itu.

Allah begitu mencintai Siti hajar atas emansipasi tauhid yang dilakukannya dengan penuh ketaatan dan ketakwaan. pada saat Ismail terus menangis dan Siti hajar baru saja menghampirinya dari usahanya mencarikan Ismail air, Allah langsung menurunkan keajaiban kepada ibu dan anak tersebut berupa keluarnya sebuah sumber mata air tepat dibawah kaki Ismail yang sedang menendang-nendang pasir karena kehausan. Dan jadilah sumber mata air itu memberi kehidupan tidak hanya pada buah hatinya Ismail, melainkan seluruh kafilah-kafilah yang melewati padang tersebut, hingga padang yang dulunya gersang tak berpenghuni menjadi ramai diduduki kafilah-kafilah yang membentuk peradaban baru di sekitarnya.

Keberhasilan Siti hajar membangun sebuah komunitas peradaban di sepanjang padang gersang tersebut, merupakan bentuk keberhasilan emansipasi yang hanya bisa dilakukan oleh wanita setangguh dan sekuat Siti Hajar saja. Atas keberhasilan emansipasi tauhidnya itu, Allah mengembalikan dirinya pada suami tercinta dan mengabadikan perjuangan mencarikan Ismail air sebagai sebuah momentum atas ibadah umat Islam hingga kini dalam ritual Ibadah Haji dan Umrah.

Sangat special, karena Ibadah haji ini diletakkan Allah sebagai rukun Islam yang kelima, menggambarkan bahwa haji adalah ibadah dimana seorang muslim telah bertauhid, menjalankan sholat, puasa dan berzakat sebagai kemapanan ibadahnya. kemampanan ibadah inilah yang akan membentuk pribadi seorang muslim yang tak sekedar melakukan rukun-rukun tersebut sebagai ritual belaka, melainkan terimplikasikan melalui ahlakul karimahnya dalam kehidupan sehari-hari. Jika ke-empat rukun sebelum haji telah terlampaui secara lahir dan bathin maka pelaksanaan haji adalah sebagai simbol kesempurnaan ibadah rukun Islam yang mnandakan bahwa insan tersebut telah mapan secara spritual dan lahiriah.

Dan Siti Hajar pun ikut berperan secara monumental dalam Emansipasi Tauhid tersebut. Walauhualambishowab. [gkw]

Minggu, 06 September 2009

Buaian Mimpi

Posted by Kak Galuh On 14.41 | No comments
Ketika pada suatu ujung hari yang hening, jauh dari kehidupan duniawi yang memabukkan, sebuah desiran suara membisikkan "sebentar lagi kau akan mati". Mengayun lembut pada mimipi yang entah sudah berapa kali terjadi. Sejenak suara itu menghilang dan membuat jiwa yang terbuai mimpi segera bangun dan tersadar. Jiwa ini memiliki raga yang masih berusia muda. Mungkinkah jiwa itu akan segera pergi secepat itu dari raga yang terlihat masih sehat ini??? Istighfar pun meluncur dari lidah kelu yang entah apakah selama ini telah cukup banyak terpakai untuk menyebut Asma Allah, Sang Pemberi Kehidupan pada si empunya mimpi???

Setelah sholat lail, berdzikir dan bersimpuh kepadaNYA hingga subuh tak juga membuat si empunya mimpi menjadi lebih baik. Ia tetap merasa belum memiliki apa-apa untuk dibawanya sebagai bekal andai kematian itu memang terbentang di depan matanya bak jurang lebar yang tiba-tiba hadir di depan pintu kamarnya. Sama sekali tak bisa dihindari. Karena tak ada jalan keluar dari kamar itu selain pintu kamar itu sendiri. Adapun jendela yang terpasang lebar di sudut kamar lain telah diteralis besi oleh pemilik rumah tempatnya mengontrak.

Bagaimana jika ia mati sekarang??? Sudah cukupkah sholatnya, puasanya, zakatnya selama ini??? Apakah sholat, puasa, zakat, berbuat baik pada sesama saja sudah cukup sebagai bekalnya menghadap Sang Pencipta. Tiba-tiba si empunya mimpi menangis tersedu-sedu seperti anak kecil yang tidak mendapatkan keinginnnya dari orang tuanya. Ia menangis karena selama dua puluh empat jam setiap hari yang dilaluinya hanya ketika sholat saja ia mengingat Allah. Pada waktu lain, ia hanya disibukkan oleh pekerjaan yang tak kunjung selesai. Ia juga menangis karena hanya berpuasa pada bulan Ramadhan, sedangkan pada bulan-bulan lain ketika ada kesempatan berpuasa sunah, tak pernah ia kerjakan. Ia pun menangisi, harta yang dikeluarkannya untuk zakat hanyalah setahun sekali ketika menjelang idul fitri. Selebihnya, ia pakai untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang semakin hari semakin banyak, bertambah karena tuntutan zaman dan sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan Allah yang sudah memberikan rezeki tersebut padaNya.

Ia terus menangis hingga air matanya kering... tapi terlambat sudah... malaikat maut sudah menunggunya di depan pintu kamar... [gkw]

Rabu, 29 Juli 2009

Selamatkan Anak

Posted by Kak Galuh On 06.12 | No comments
Sumpah saya tidak akan menulis yang aneh-aneh disini. Becanda pun tidak. Sebab hal ini bukan untuk ditertawakan atau dibecandakan. Boleh lah sekali-kali saya tidak becanda. Meskipun becanda itu senjata ampuh penolak santet dan anti interograsi. Tapi sekali lagi saya tidak ingin becanda dalam hal ini.

Itu saya kemarin melihat tiba-tiba TV hidup. Entah siapa yang menjadi Tuhan baginya. Soalnya ketika saya datang ke tempat TV, dirinya sudah hidup seperti itu. Tapi biarlah. Saya tidak perduli siapa Tuhan dia. Sebab Tuhan saya hanya Allah dan Muhammad saw-lah rasul saya.

Si TV sebenarnya tidak saya persalahkan atas kehidupannya. Yang saya permasalahkan adalah apa yang dia perlihatkan pada saya. Entah kenapa hal seperti itu bisa terjadi lagi. Disaat tanggal keramat seperti waktu itu. Ya 23 Juli 2009.

Tepat ditanggal keramatnya anak-anak se-Indonesia itu, saya kembali dibuat terdiam oleh TV. Bukan berarti TV telah menajdi Tuhan buat saya. Atau dia punya ilmu hipnotis seperti Romy Rafael. Tapi karena apa yang saya lihat ternyata begitu sangat ..... apa ya??? Saya susah mendeskripsikannya. Terserah mau dikatakan apa. Saya ceritakan saja sekilas. Tidak usah banyak-banyak. Kalau banyak-banyak nantinya tidak bagus. Seperti halnya hujan. Kalau hujan kebanyakan nantinya banjir. Seperti rumah saya dulu yang lalu kala. Ah, tidak usah saya ceritakan. Ini masalah saya dengan hujan.

Singkat cerita, sebelum saya melihat adegan yang membuat saya ngilu, saya terlebih dahulu melihat siaran berita tentang usaha Pemerintah & LSM yang konsern masalah peranakan (bukan peranakan dalam arti orang hamil ini beda jauh). ”Katanya” mereka ingin agar dalam menyambut Hari Anak Nasional 23 Juli 2009 ini dilakukan berbagai kegiatan. Macam-macamlah kegiatannya. Saya juga tidak tahu pasti. Yang jelas ada konferensi pers, aksi damai di Bundaran HI, dan propaganda mengurangi menonton TV.

Kegiatan yang menampilkan Seto Mulyadi (Komnas Perlindungan Anak), Fetty Fajriati Miftach (Komisi Penyiaran Indonesia Pusat), dan Dr.Sudjatmiko (Ikatan Dokter Anak Indonesia) ini memang ”katanya” ditujukan untuk memberikan pembelajaran agar keluarga serius terhadap masa depan anak-anak mereka. Terlebih lagi terhadap dampak negatif dari TV. Acara-acara TV sebagian besar justru berisi hal yang tidak sehat, tidak mendidik, menampilkan realitas semu, dan gaya hidup berlebihan. Intinya lebih banyak menimbulkan distruksi. Begitu yang mereka bilang.

Sampai disana saya sangat merespon positif atas usaha dan ide ini. Iya sampai disana. Sampai sebelum acara penganugerahan piala-piala yang entah atas hasil apa. Hasil balapan kerupuk kah? Entah. Saya tidak begitu menyimak ketika alasan si pememang layak mendapatkan piala itu. Yang saya lihat naiklah Luna Maya disertai Ariel Peterpan menuju podium. Dengan digemuruhi sorak-sorai anak-anak yang bagai semut gatal di bawahnya.

Klimaknya setelah Luna Maya diminta untuk speak-speak thank you atau apalah namanya. Seketika itu dari bawah berteriaklah anak-anak yang belum baligh itu. Kalau terikan takbir sih bagus. Walaupun saya bakal protes juga kalau sampai anak-anak itu teriak takbir. Masa takbir di acara seperti begitu. Sayangnya teriakan mereka justru malah seruan agar Ariel berbuat mesum pada Luna seketika itu juga di panggung. Cium... ciummm... ciummmm...

Innalilahi.... Apa yang ada di otak mereka pikir saya. Padahal sesaat lalu mereka, orang tua mereka, panitia, satpam, penyelenggara, pakar, dan semua makhluk yang hadir disana baru saja selesai menyepakati tentang arah yang lebih baik untuk anak-anak Indonesia. Kalau ternyata yang lebih baik itu saat ini seperti demikian. Seperti yang mereka biarkan itu anak-anak kecil berteriak-teriak mesum tanpa dilarang. Maka jangan salahkan saya untuk mengatakan pada Khalil Gibran bahwa ucapannya;

... Berikan mereka kasih sayangmu, tapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu, Sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri.
Patut kau berikan rumah untuk raganya, tapi tidak untuk jiwanya, Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan, Yang tiada dapat kaukunjungi, sekalipun dalam impian …

sudah tidak berlaku lagi bagi saya saat ini. [begundal militan]

KOMENTAR SAHABAT

INSIST

Hidayatullah ONLINE